Tsutomu Miyazaki: Kasus Pembunuh Berantai 1980-an dan Awal Stigma Negatif terhadap Otaku

Inrofaa - Tsutomu Miyazaki adalah seorang pria asal Jepang yang namanya menjadi simbol salah satu kasus kriminal paling mengerikan dalam sejarah modern Jepang. Ia dikenal sebagai pembunuh berantai yang melakukan kejahatan sadis terhadap anak-anak pada akhir 1980-an. Kasusnya tidak hanya mengguncang masyarakat Jepang, tetapi juga meninggalkan dampak sosial yang luas, terutama munculnya stigma negatif terhadap komunitas penggemar anime, manga, dan budaya pop Jepang yang kemudian dikenal sebagai otaku.

Miyazaki lahir pada tahun 1962 dan berasal dari keluarga berada. Secara lahiriah, ia tampak seperti pria biasa, namun kehidupan pribadinya menunjukkan banyak masalah psikologis dan sosial. Ia dikenal tertutup, sulit berinteraksi secara normal, serta memiliki ketertarikan berlebihan pada media visual, termasuk anime, film horor, dan video dengan konten ekstrem. Ketertarikan ini kemudian disalahartikan secara luas oleh media sebagai ciri khas otaku secara umum.

Pada periode 1988 - 1989, Miyazaki menculik dan membunuh empat anak perempuan. Kejahatannya dilakukan dengan cara yang sangat brutal dan tidak manusiawi, sehingga memicu kemarahan dan ketakutan publik. Saat penangkapannya, polisi menemukan ribuan kaset video di rumahnya, termasuk anime, film horor, dan rekaman lain yang tidak terkait langsung dengan kejahatan tersebut. Namun, temuan inilah yang kemudian menjadi bahan utama pemberitaan sensasional media.

Media Jepang saat itu menjuluki Miyazaki sebagai “Otaku Murderer” atau “Pembunuh Otaku”. Label ini dengan cepat melekat dan membentuk persepsi publik bahwa otaku adalah individu antisosial, berbahaya, dan berpotensi melakukan kekerasan. Padahal, istilah otaku sendiri merujuk pada orang dengan minat mendalam terhadap hobi tertentu, khususnya anime dan manga, tanpa kaitan inheren dengan tindak kriminal.

Akibat kasus Miyazaki, banyak penggemar anime dan manga mengalami diskriminasi sosial. Mereka dianggap menyimpang, dicurigai, bahkan dijauhi. Industri anime dan budaya pop Jepang juga sempat mengalami tekanan moral dari masyarakat. Baru bertahun-tahun kemudian, pandangan ini mulai diluruskan oleh akademisi, jurnalis, dan masyarakat luas, yang menegaskan bahwa tindakan Miyazaki adalah hasil gangguan psikologis serius, bukan akibat dari hobi atau minat budaya tertentu.

Kasus Tsutomu Miyazaki menjadi pelajaran penting tentang bahaya generalisasi dan sensasionalisme media. Kejahatan individu tidak dapat dijadikan dasar untuk menghakimi sebuah komunitas besar. Otaku, seperti kelompok sosial lainnya, terdiri dari individu yang beragam, dan mayoritasnya adalah masyarakat biasa yang tidak memiliki kecenderungan kriminal.

Referensi : Kaori Nusantara, Kearipan.com, ABC News (Australia)

Baca Juga :

Hubungi Admin? Klik di sini

Beranda UtamaInrofaa Store
Salam Ilmu Pengetahuan
Terima kasih

Komentar