Serangga Tonggeret: Fenomena Dua Siklus 13 dan 17 Tahun sebagai Strategi Bertahan Hidup yang Menakjubkan

Inrofaa - Tonggeret adalah serangga dari famili Cicadidae yang dikenal luas karena suara nyaringnya, terutama terdengar pada siang hari. Suara ini dihasilkan oleh tonggeret jantan menggunakan organ khusus bernama tymbal yang terletak di bagian perut. Fungsi utama suara tersebut adalah untuk menarik pasangan. Tonggeret termasuk serangga hemimetabola, artinya mengalami tahap telur, nimfa, dan dewasa tanpa fase kepompong. Di banyak negara tropis, termasuk Indonesia, tonggeret sering muncul secara musiman dan menjadi bagian dari lanskap alam sehari-hari.
Namun, di Amerika Utara terdapat jenis tonggeret yang sangat unik dan menarik perhatian ilmuwan, yaitu periodical cicada dari genus Magicicada. Tonggeret ini memiliki siklus hidup yang sangat panjang, yakni 13 tahun atau 17 tahun. Sebagian besar hidupnya dihabiskan di bawah tanah sebagai nimfa, di mana mereka mengisap cairan dari akar pohon. Selama bertahun-tahun tersebut, mereka tumbuh sangat lambat hingga akhirnya muncul ke permukaan tanah secara serempak dalam jumlah yang sangat besar.
Kemunculan massal ini bukan tanpa alasan. Angka 13 dan 17 merupakan bilangan prima, yaitu angka yang hanya dapat dibagi oleh dirinya sendiri dan angka satu. Dalam konteks evolusi, penggunaan bilangan prima sebagai siklus hidup memberikan keuntungan besar bagi tonggeret. Predator alami seperti burung atau mamalia kecil umumnya memiliki siklus populasi yang lebih pendek dan teratur, misalnya dua atau empat tahun. Karena siklus tonggeret jarang bertemu kelipatan siklus predator, peluang predator untuk beradaptasi dan menunggu kemunculan tonggeret menjadi sangat kecil.
Selain itu, tonggeret 13 dan 17 tahun memanfaatkan strategi yang dikenal sebagai predator satiation atau “pembanjiran mangsa”. Ketika jutaan tonggeret muncul bersamaan, predator tidak mampu memangsa semuanya. Akibatnya, meskipun banyak yang dimakan, sebagian besar tetap bertahan hidup dan berhasil berkembang biak. Strategi ini terbukti sangat efektif untuk menjaga kelangsungan spesies.
Keistimewaan lain dari siklus panjang ini adalah kemampuannya mengurangi risiko perkawinan silang antar kelompok tonggeret dengan siklus berbeda. Dengan waktu kemunculan yang sangat spesifik dan jarang bertepatan, masing-masing kelompok tetap terisolasi secara reproduktif. Hal ini membantu menjaga kestabilan genetik dan keberlangsungan spesies dalam jangka panjang.
Fenomena tonggeret 13 dan 17 tahun menjadi contoh nyata bagaimana alam memanfaatkan prinsip matematika dan strategi evolusi yang kompleks. Perpaduan antara siklus hidup ekstrem, kemunculan massal, dan penggunaan bilangan prima menjadikan tonggeret sebagai salah satu serangga paling menakjubkan di dunia biologi.
Referensi : Natural History, DetikEdu, BumiBaik.com
Baca Juga :
Hubungi Admin? Klik di sini
Komentar