Suku Chimbu: Makna Budaya Tradisional Seni Lukis Tubuh Kerangka di Papua Nugini

Inrofaa - Suku Chimbu, yang juga sering disebut Simbu, adalah salah satu kelompok etnis yang berasal dari daerah pegunungan tengah Papua Nugini. Wilayah tempat mereka tinggal berada di dataran tinggi yang berbukit dan berlembah, sehingga kehidupan masyarakatnya sangat dipengaruhi oleh kondisi geografis yang menantang. Suhu di dataran tinggi ini cenderung lebih dingin dibandingkan pesisir, dan tanahnya subur untuk bercocok tanam. Masyarakat Chimbu secara tradisional hidup dari pertanian subsisten, menanam umbi-umbian seperti ubi jalar, singkong, dan sayuran lokal. Selain bertani, mereka juga memelihara babi yang memainkan peran penting dalam upacara adat dan kehidupan sosial mereka.
Salah satu aspek budaya Chimbu yang paling menarik perhatian dunia adalah tradisi seni lukis tubuh mereka. Dalam berbagai upacara dan perayaan adat, anggota suku ini mengecat tubuh mereka dengan pola yang rumit, menggunakan pigmen alami. Pola yang digunakan sering kali menyerupai bentuk kerangka atau motif yang kontras antara putih dan hitam, sehingga orang luar yang pertama kali melihatnya menggambarkan mereka sebagai “manusia kerangka”. Lukisan tubuh ini tidak sekadar hiasan estetis, tetapi memiliki makna simbolis yang mendalam dalam konteks spiritual dan sosial. Cat tubuh yang digunakan biasanya berasal dari bahan alami seperti tanah liat putih dan arang, yang kemudian dioleskan dengan teknik tertentu untuk menciptakan efek visual yang kuat.
Selain seni lukis tubuh, masyarakat Chimbu juga dikenal karena tradisi tari dan musiknya. Musik tradisional sering kali diiringi dengan instrumen sederhana seperti drum dan seruling dari bambu. Tarian dilakukan dalam kelompok, biasanya oleh pria dan wanita yang berpakaian adat lengkap, termasuk penutup kepala dan ornamen dari bulu burung atau serat alam. Tari dan musik ini merupakan bagian penting dari berbagai upacara, termasuk perayaan panen, ritual penyambutan tamu, atau pertemuan antar desa.
Struktur sosial suku Chimbu cukup kompleks. Mereka mendiami sejumlah komunitas kecil terpencil yang masing-masing memiliki pemimpin adat dan aturan sendiri. Hubungan antar komunitas ditandai oleh sistem pertukaran, pernikahan, serta aliansi melalui ritual budaya. Meskipun Indonesia dan Papua Nugini masing-masing memiliki kebudayaan yang kaya, tradisi unik Chimbu (terutama lukis tubuhnya) tetap menjadi bagian penting dari warisan budaya yang memikat minat antropolog dan pelancong dari seluruh dunia. Dengan demikian, Chimbu bukan sekadar “manusia kerangka” dalam persepsi awal, tetapi sebuah masyarakat yang kaya akan makna dan tradisi.
Referensi : Smithsonian Magazine, Website Kumparan, Situs Supertravelr
Baca Juga :
Hubungi Admin? Klik di sini
Komentar