Nabi Sam’un AS: Kekuatan, Ibadah dan Keutamaan Malam Lailatul Qadar

Inrofaa - Nabi Sam’un ‘Alaihissallam dikenal dalam khazanah Islam sebagai sosok nabi dan pejuang dari kalangan Bani Israil. Dalam tradisi Islam, ia sering disebut Sam’un Al-Ghazi, yakni Sam’un sang pejuang di jalan Allah. Nama Sam’un kerap disandingkan dengan tokoh Samson atau Simson dalam bahasa Ibrani, meskipun dalam Islam penekanannya bukan pada kisah mitologi, melainkan pada keteladanan iman, kekuatan, dan keteguhan dalam berjihad melawan kezaliman.

Menurut riwayat yang banyak disebut dalam kitab-kitab tafsir dan sejarah Islam klasik, Nabi Sam’un dianugerahi kekuatan fisik luar biasa oleh Allah. Kekuatan tersebut bukan untuk kesombongan, melainkan sebagai sarana menegakkan kebenaran dan membela umatnya dari penindasan musuh. Ia dikenal sangat taat beribadah, zuhud, dan mengabdikan hidupnya untuk perjuangan di jalan Allah dalam waktu yang sangat panjang.

Dalam Islam, Nabi Sam’un tidak disebutkan secara eksplisit dalam Al-Qur’an. Kisah-kisah tentang dirinya banyak bersumber dari riwayat para ulama terdahulu dan termasuk dalam kategori kisah umat sebelum Nabi Muhammad ﷺ. Meski demikian, nilai moral dan hikmah dari kisah Nabi Sam’un tetap dijadikan pelajaran, selama tidak bertentangan dengan prinsip ajaran Islam.

Hubungan Nabi Sam’un dengan Lailatul Qadar berangkat dari sebuah hikmah yang diriwayatkan dalam tradisi keislaman. Diceritakan bahwa para sahabat Nabi Muhammad ﷺ merasa kagum ketika mendengar kisah Nabi Sam’un yang berjuang di jalan Allah selama ratusan tahun tanpa henti. Para sahabat kemudian merasa sedih karena usia umat Nabi Muhammad ﷺ relatif lebih pendek, sehingga khawatir tidak mampu menyamai amal ibadah umat terdahulu.

Sebagai bentuk kasih sayang Allah kepada umat Nabi Muhammad ﷺ, Allah kemudian menganugerahkan Lailatul Qadar, yaitu satu malam yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan. Dengan adanya Lailatul Qadar, umat Islam memiliki kesempatan untuk meraih pahala yang sangat besar dalam waktu yang singkat, bahkan dapat melampaui amal panjang umat-umat sebelumnya, termasuk amal perjuangan Nabi Sam’un.

Dari kisah Nabi Sam’un dan Lailatul Qadar, umat Islam diajarkan bahwa kualitas amal lebih utama daripada lamanya usia. Allah memberikan keistimewaan yang berbeda pada setiap umat, dan keutamaan tersebut hendaknya dimanfaatkan dengan iman, keikhlasan, dan kesungguhan dalam beribadah.

Referensi : Islamweb Fatwa, Liputan6 Islami, Laduni.id

Baca Juga :

Hubungi Admin? Klik di sini

Beranda UtamaInrofaa Store
Salam Ilmu Pengetahuan
Terima kasih

Komentar