Gunung: Sejarah dan Cara Pengukuran Tinggi Gunung dari Trigonometri sampai GPS Modern

Inrofaa - Menentukan tinggi sebuah gunung merupakan hasil dari perkembangan ilmu pengetahuan yang panjang dan bertahap. Tinggi gunung tidak sekadar diukur dari kaki hingga puncaknya, melainkan dihitung secara ilmiah berdasarkan acuan tertentu agar hasilnya konsisten dan dapat dibandingkan di seluruh dunia. Sejak dahulu, manusia telah berusaha memahami bentuk bumi dan posisi objek di atasnya melalui pendekatan matematika dan observasi alam.

Metode paling awal yang digunakan untuk menghitung tinggi gunung adalah trigonometri, yaitu cabang matematika yang mempelajari hubungan sudut dan sisi segitiga. Prinsip dasarnya cukup sederhana. Seorang pengamat berdiri di titik tertentu yang jaraknya ke kaki gunung dapat diperkirakan. Dengan alat bantu seperti tongkat bayangan, sekstan, atau theodolite, pengamat mengukur sudut elevasi, yaitu sudut antara garis pandang ke puncak gunung dan garis horizontal. Jika jarak horizontal ke gunung diketahui, maka tinggi gunung dapat dihitung menggunakan rumus trigonometri, khususnya fungsi tangen. Cara ini menjadi fondasi utama pengukuran ketinggian selama berabad-abad.

Perkembangan berikutnya adalah metode triangulasi, yang mulai digunakan secara luas pada abad ke-18 dan ke-19. Dalam metode ini, para ahli tidak hanya mengukur dari satu titik, tetapi membangun jaringan titik ukur yang saling terhubung membentuk segitiga-segitiga besar di permukaan bumi. Dengan mengetahui satu jarak dasar dan mengukur sudut-sudut di berbagai titik, posisi serta ketinggian puncak gunung dapat dihitung secara lebih akurat. Teknik ini banyak digunakan dalam pemetaan nasional dan ekspedisi ilmiah besar.

Namun, pengukuran tinggi gunung belum lengkap tanpa titik acuan ketinggian yang sama. Oleh karena itu, para ilmuwan menetapkan permukaan laut rata-rata sebagai nol ketinggian. Permukaan ini bukan gelombang laut sesaat, melainkan hasil pengamatan jangka panjang yang dirata-ratakan selama bertahun-tahun. Dari sinilah lahir satuan MDPL (Meter di Atas Permukaan Laut), yang menunjukkan seberapa tinggi suatu titik berada dibandingkan permukaan laut rata-rata tersebut.

Memasuki era modern, pengukuran tinggi gunung semakin presisi dengan bantuan satelit dan teknologi GPS. Sistem GPS bekerja dengan menerima sinyal dari beberapa satelit untuk menentukan posisi tiga dimensi suatu titik, yaitu lintang, bujur, dan ketinggian. Namun, tinggi yang dihasilkan GPS sebenarnya dihitung terhadap model matematis bumi yang disebut elipsoid. Agar hasilnya sesuai dengan MDPL, data GPS harus dikoreksi menggunakan model geoid, yaitu gambaran permukaan bumi berdasarkan medan gravitasi.

Selain GPS, digunakan pula altimetri radar dan pemindaian lidar, yang mampu memetakan bentuk permukaan gunung secara detail dari udara. Data ini kemudian diolah secara digital untuk menentukan titik puncak tertinggi secara akurat, bahkan di wilayah yang sulit dijangkau manusia.

Dengan demikian, perhitungan tinggi gunung merupakan gabungan antara matematika, pengamatan alam, dan teknologi modern. Dari bayangan matahari hingga satelit di orbit bumi, semua metode tersebut berperan menghasilkan angka MDPL yang kita kenal dan gunakan hingga saat ini.

Referensi : Blog Awhasyim, Live Science, Eiger Adventure

Baca Juga :

Hubungi Admin? Klik di sini

Beranda UtamaInrofaa Store
Salam Ilmu Pengetahuan
Terima kasih

Komentar