Awan: Perbedaan Awan Biasa dan Awan Hujan serta Proses Terbentuknya dari Uap Air

Inrofaa - Awan merupakan kumpulan butiran air atau kristal es yang melayang di atmosfer akibat proses alam. Meskipun sekilas terlihat serupa, tidak semua awan memiliki fungsi yang sama. Secara umum, awan dapat dibedakan menjadi awan biasa dan awan hujan. Perbedaan keduanya tidak hanya terletak pada warna atau bentuk, tetapi terutama pada ketebalan, kandungan air, dan proses fisika yang terjadi di dalam awan tersebut.
Awan biasa adalah awan yang tidak menghasilkan hujan. Awan ini umumnya memiliki ketebalan tipis hingga sedang, dengan tetesan air yang sangat kecil dan ringan sehingga tetap melayang di udara. Contohnya adalah awan cirrus yang tampak tipis seperti serat halus di langit, atau awan cumulus kecil yang berwarna putih cerah dan menyerupai kapas. Awan-awan ini terbentuk pada kondisi atmosfer yang relatif stabil, di mana pergerakan udara ke atas tidak cukup kuat untuk membuat awan tumbuh tinggi dan padat.
Sebaliknya, awan hujan adalah awan yang memiliki struktur tebal dan kandungan air atau kristal es yang jauh lebih banyak. Awan jenis ini biasanya tampak gelap karena cahaya matahari sulit menembus lapisan awan yang padat. Awan hujan mampu menghasilkan presipitasi berupa hujan, gerimis, atau bahkan hujan lebat disertai petir. Contoh awan hujan yang umum adalah nimbostratus, yang menghasilkan hujan merata dalam waktu lama, serta cumulonimbus, yang dapat menimbulkan hujan deras, angin kencang, dan kilat.
Tidak semua awan bisa menjadi awan hujan, tetapi awan biasa memiliki peluang untuk berkembang menjadi awan hujan jika kondisi atmosfer mendukung. Awan cumulus, misalnya, dapat tumbuh semakin tinggi dan tebal apabila udara hangat dan lembap terus naik dari permukaan bumi. Ketika pertumbuhan ini berlangsung intensif, awan tersebut dapat berubah menjadi cumulonimbus yang berpotensi menurunkan hujan.
Proses terbentuknya awan hujan dimulai dari penguapan air di permukaan bumi akibat panas matahari. Uap air yang terbentuk kemudian naik ke atmosfer bersama udara hangat. Semakin tinggi uap air naik, suhu udara semakin rendah sehingga uap air mengalami kondensasi dan berubah menjadi butiran air atau kristal es. Di dalam awan, butiran-butiran ini saling bertabrakan dan bergabung, membentuk tetesan yang semakin besar dan berat. Ketika berat tetesan air tidak lagi mampu ditahan oleh arus udara ke atas, tetesan tersebut jatuh ke permukaan bumi sebagai hujan. Dengan demikian, awan hujan merupakan hasil dari proses alam yang bertahap dan dipengaruhi oleh kondisi suhu, kelembapan, serta dinamika udara di atmosfer.
Referensi : Situs BMKG, Ruangguru, Encyclopaedia Britannica
Baca Juga :
Hubungi Admin? Klik di sini
Komentar