Teknik Amalgamasi: Hubungan Kimia antara Emas dan Merkuri yang Menguntungkan Sekaligus Berbahaya

Inrofaa - Emas merupakan logam mulia yang sering ditemukan bercampur dengan batuan atau mineral lain sehingga memerlukan proses khusus untuk memisahkannya. Salah satu metode yang telah lama digunakan adalah memanfaatkan merkuri atau air raksa. Ketika emas bersentuhan dengan merkuri, keduanya membentuk campuran logam yang dikenal sebagai amalgam. Sifat ini membuat butiran emas lebih mudah dikumpulkan dan dipisahkan dari material lain. Karena prosesnya sederhana serta tidak membutuhkan peralatan yang rumit, teknik amalgamasi pernah menjadi pilihan utama, terutama pada kegiatan pertambangan emas skala kecil di berbagai negara.

Pembentukan amalgam terjadi karena merkuri mampu melarutkan emas tanpa mengubah sifat dasar logam tersebut. Setelah campuran emas dan merkuri berhasil dipisahkan dari batuan, tahap berikutnya adalah memanaskan amalgam. Merkuri memiliki titik didih yang jauh lebih rendah dibandingkan emas sehingga akan menguap lebih dahulu ketika dipanaskan, sedangkan emas tetap tertinggal sebagai hasil akhir. Meskipun teknik ini dinilai efektif dalam memperoleh emas, proses pemanasan menghasilkan uap merkuri yang sangat berbahaya apabila terhirup atau dilepaskan langsung ke lingkungan tanpa pengendalian yang memadai.

Paparan merkuri dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan yang serius. Uap merkuri mudah masuk ke dalam tubuh melalui saluran pernapasan dan kemudian menyebar ke berbagai organ. Sistem saraf menjadi salah satu bagian tubuh yang paling rentan mengalami kerusakan, yang dapat ditandai dengan tremor, gangguan koordinasi, penurunan daya ingat, hingga perubahan perilaku. Selain itu, merkuri juga dapat merusak fungsi ginjal dan memberikan dampak yang lebih besar pada janin serta anak-anak karena dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan sistem saraf. Dampak tersebut sering kali bersifat jangka panjang sehingga memerlukan perhatian khusus.

Selain membahayakan manusia, penggunaan merkuri yang tidak terkendali juga mencemari lingkungan. Merkuri yang terlepas ke udara, tanah, atau perairan dapat mengalami perubahan menjadi metilmerkuri, yaitu bentuk yang lebih beracun dan mudah terakumulasi dalam rantai makanan. Ikan serta organisme perairan dapat menyerap senyawa ini, kemudian dikonsumsi oleh manusia sehingga meningkatkan risiko keracunan. Oleh karena itu, pencemaran merkuri tidak hanya memengaruhi penambang, tetapi juga masyarakat yang tinggal di sekitar wilayah pertambangan maupun daerah lain yang bergantung pada sumber daya perairan.

Menyadari besarnya dampak tersebut, masyarakat internasional menyepakati Konvensi Minamata tentang Merkuri sebagai upaya global untuk mengurangi penggunaan dan pelepasan merkuri ke lingkungan. Perjanjian ini mendorong setiap negara untuk mengendalikan pemakaian merkuri, khususnya pada pertambangan emas skala kecil, serta mengembangkan teknologi pengolahan emas yang lebih aman dan ramah lingkungan. Melalui penerapan aturan, peningkatan kesadaran, serta penggunaan metode alternatif yang lebih aman, diharapkan risiko terhadap kesehatan manusia dan kelestarian lingkungan dapat ditekan tanpa mengabaikan kebutuhan masyarakat dalam memperoleh sumber penghidupan.

Referensi : United States Geological Survey, International Labour Organization, Minamata Convention on Mercury