Rabies: Memahami Penyakit Mematikan dari Virus yang Menyerang Sistem Saraf

Inrofaa - Rabies adalah penyakit infeksi virus yang menyerang sistem saraf pusat manusia dan hewan mamalia. Virus ini biasanya menular melalui gigitan, cakaran, atau air liur hewan yang terinfeksi, terutama anjing, kucing, kelelawar, dan monyet. Setelah virus masuk ke tubuh, rabies tidak langsung menimbulkan gejala. Virus akan bergerak perlahan melalui saraf menuju otak. Masa inkubasinya bisa berlangsung beberapa minggu hingga beberapa bulan, tergantung lokasi luka dan jumlah virus yang masuk. Karena itu, seseorang yang tampak sehat setelah digigit hewan tetap bisa berisiko terkena rabies apabila tidak segera mendapatkan penanganan medis.

Rabies termasuk salah satu penyakit paling berbahaya di dunia karena hampir selalu berakibat fatal ketika gejalanya sudah muncul. Pada tahap awal, penderita biasanya mengalami demam, sakit kepala, lemas, atau rasa kesemutan di area bekas gigitan. Setelah virus mencapai otak, gejalanya berkembang menjadi gangguan saraf serius seperti gelisah, kebingungan, sulit menelan, kejang, halusinasi, hingga kelumpuhan. Pada tahap ini, peluang sembuh sangat kecil. Karena itulah rabies dianggap sebagai keadaan darurat medis. Namun, penyakit ini sebenarnya dapat dicegah jika korban gigitan segera mencuci luka dengan sabun dan air mengalir lalu mendapatkan vaksin anti rabies secepat mungkin.

Salah satu gejala rabies yang paling terkenal adalah takut air atau hidrofobia. Banyak orang mengira penderita takut melihat air, padahal yang sebenarnya terjadi adalah tubuh mereka mengalami kejang hebat ketika mencoba menelan cairan. Virus rabies menyerang bagian otak dan saraf yang mengatur proses menelan dan pernapasan. Akibatnya, otot tenggorokan menjadi sangat sensitif dan mudah kejang. Bahkan suara air, melihat air, atau mencoba minum bisa memicu rasa sakit dan kontraksi hebat pada tenggorokan penderita. Karena pengalaman itu sangat menyakitkan, penderita akhirnya tampak seperti takut terhadap air.

Selain hidrofobia, penderita rabies juga dapat mengalami aerofobia atau takut terhadap hembusan angin. Udara yang mengenai wajah bisa memicu kejang dan rasa tidak nyaman yang luar biasa. Kondisi ini menunjukkan bahwa sistem saraf penderita sudah mengalami kerusakan berat. Pada fase lanjut, penderita biasanya mengalami kesulitan bernapas, gangguan jantung, dan akhirnya koma. Karena perkembangan penyakitnya sangat cepat setelah gejala muncul, perawatan medis umumnya hanya bertujuan mengurangi penderitaan dan menjaga kenyamanan pasien.

Pencegahan rabies sangat penting karena penyakit ini hampir selalu mematikan tetapi sebenarnya bisa dihindari. Hewan peliharaan seperti anjing dan kucing perlu divaksin secara rutin agar tidak menjadi sumber penularan. Jika seseorang digigit hewan, luka harus segera dicuci selama sekitar 15 menit menggunakan sabun dan air mengalir, lalu segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan. Dokter dapat memberikan vaksin anti rabies dan serum sesuai tingkat risiko. Penanganan cepat sebelum gejala muncul adalah kunci utama untuk menyelamatkan nyawa dari penyakit rabies.

Referensi : Antara News, Tribun News, CNN Indonesia

● Baca Artikel Lainnya! Klik di sini

Salam Ilmu Pengetahuan
Terima kasih