Siput Eastern Emerald Elysia: Fenomena Langka yang Bisa Berfotosintesis di Dunia Bawah Laut

Inrofaa - Elysia chlorotica, yang dikenal sebagai Eastern Emerald Elysia, adalah siput laut kecil berwarna hijau cerah yang hidup di perairan dangkal sepanjang pesisir timur Amerika Utara. Sekilas, hewan ini tampak seperti daun kecil yang mengambang di laut. Warna hijaunya bukan sekadar kamuflase, melainkan hasil dari kemampuan biologis luar biasa: melakukan fotosintesis, proses yang umumnya hanya dilakukan oleh tumbuhan dan alga.

Kemampuan unik ini terjadi melalui proses yang disebut kleptoplasty. Dalam proses ini, Elysia chlorotica memakan alga hijau, terutama Vaucheria litorea, lalu “mencuri” kloroplasnya. Kloroplas adalah organel sel yang berfungsi menangkap energi cahaya matahari untuk menghasilkan gula melalui fotosintesis. Alih-alih mencerna seluruh bagian alga, siput ini menyimpan kloroplas yang masih aktif di dalam sel-sel tubuhnya, khususnya di jaringan pencernaan yang bercabang luas.

Setelah kloroplas tersimpan, siput mampu memanfaatkan energi matahari untuk membantu memenuhi kebutuhan nutrisinya. Dalam kondisi cukup cahaya, Elysia chlorotica bahkan dapat bertahan hidup selama berbulan-bulan tanpa kembali memakan alga. Fotosintesis yang terjadi di dalam tubuhnya menghasilkan senyawa organik yang mendukung metabolisme dan kelangsungan hidupnya, meskipun tetap tidak sepenuhnya menggantikan kebutuhan makan dalam jangka panjang.

Fenomena ini sempat memunculkan dugaan adanya transfer gen dari alga ke siput, agar kloroplas dapat berfungsi stabil dalam tubuh hewan. Namun, penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa kloroplas dari Vaucheria litorea memang memiliki ketahanan tinggi sehingga dapat tetap aktif cukup lama tanpa harus bergantung pada integrasi gen permanen di dalam genom siput.

Kemampuan kleptoplasty pada Elysia chlorotica menjadi contoh langka hubungan antara hewan dan proses fotosintesis. Keunikan ini memperluas pemahaman ilmiah tentang adaptasi evolusioner dan menunjukkan bahwa batas antara dunia hewan dan tumbuhan tidak selalu tegas seperti yang selama ini dipahami.

Referensi : Wikipedia, Scientific Reports, Journal of Experimental Biology

● Baca Artikel Lainnya! Klik di sini

Salam Ilmu Pengetahuan
Terima kasih